menari-nari,malaikat juga tahu

ketika semua orang menari-nari dengan kebanggaannya. gw merenung di dalam sebuah gubuk kecil di punggung gunung entah berantah. dengan sebatang kayu kecil,mencoret-moretkan epidermis tanah lembab yang sangat subur.

mengambarkan sebuah lingkaran tidak sempurna dengan sayap burung merpati di kedua sisi-kanan dan kiri.

ketika itu pula,kawan-kawan sedang memasak mie,bubur setan (setan dalam arti sesungguhnya,kawan. mengeyangkan tapi,tidak pecah di lidah) juga coklat hangat.

ketika itu,kabut putih turun pelan-pelan. sangat pelan.

suhu sekitar perlahan pun ikut turun.

jika lo adalah lelaki pemelihara bulu-bulu halus di wajah atau lo adalah wanita dengan kelebihan sedikit bulu halus di atas bibir,lo akan merasakan embun-embun menempel di bulu tersebut.

sebatang rokok kretek pun tek terasa.

gw bukan perokok. tapi ketika itu tergoda membuka bungkus rokok putih yang di berikan seorang gadis.

“jangan banyak ngerokoknya ya?” katanya sebelum menyerahkan bungkus tersebut

“janji” jawab gw.

ya. ketika itu. beberapa pendaki menari-nari di antara perapian ketika hari dudah mulai gelap. semakin menggigit saja suhu sekitar. jaket tebal berbahan bulu angsa no wahid sudah ku pakai. tak lupa syal melingkar di leher gw.

gw cukup menikmati kopi yang sudah menjadi dingin di tangan kanan dan sebatang rokok putih di tangan kiri.

tarian semakin laurut semakin riang-gembira. namun,gw sudah terlelap di dalam tenda..

sayup-sayup masih sadar,terdengar lagu dewi lestari dari MP3,,

… Meski seringkali kau malah asyik sendiri/Karena kau tak lihat terkadang malaikat/Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan/Namun kasih ini silakan kau adu/Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya …

No comments yet. Be the first.

Leave a Reply