surat teknologi

“su,jancok! gw lagi mumet neh. gmn kabar?”

hah haha…

tidak ada maksud atau niat untuk misuh2,kawan.

itu memang misuhannya jawa timuran. kawan gw orang jawa timur. dan,memang konteks misuh2an tidak baik untuk kaum muda. tidask mendidik,kata generasi tua.

tau,sahabat pena?

guru gw punya sahabat pena di eropa sana,hingga dia menghadiri pernikahan sahabat pena tesebut di eropa sana. hm.. entah,guru iru sudah bertemu sebelumya/sudah. tapi,pastinya pun jarang sekali.

apa yang mereka tulis? gw gak tau. mungkin cucurhatan/memberi kabar apa yang terjadi di negaranya masing2.

gw juga pernah. tapi bukan sahabat pena.

dulu,waktu kecil,gw menulis surat untuk nenek di kampung.

ibu yang ngajarin. ibu juga yang menyuruh.

yang gw ingat adalah,gw menulis dengan ala kadarnya. kalo sekarang sudah bisa nulis. menaya kabar nenek juga. apakah sedang musim duren. memberi kbar kalo gw sekeluraga baik2 saja.

nenek gw juga membalas. dan,tulisnyanya itu aneh,bagi gw. miring,sambung dan teratur.

tidak seperti tulisan gw. yang jarang-jarang, dan acak2an. TAPI

salam gamus!!

kkn dalam sebuah dialog

“kkn dimana?” *temanggung.

“itu dimana?” *jawa tengah

“iye,gw tau. lo ‘kan anak undip,pastinya daerah2 sono jugalah.” *trus? kenape?

“pesisir atau gunung? lo’kan anak perikanan,biase maen2 ke pantai2 gitu” *gunung,adem benerrrr….

“kkn ngapain aje lo?” *berbakti kepada tanah air,bangsa dan negara

“beuhhh…” *knp? percaya lo?

“entahLah,pank. sial” *kkn,ada temanya. yang sekarang temanya: pembelajaran pemberdayaan masyarakat

“cih. ngapain aje tuh?” *emboh!

“kok?” *tergantung nanti programnya apa,sesuai dengan permasalahan apa yang bisa diterapkan dengan kemampuan tim.

“oh.. lo dalam tim-timan gitu?” *ha? tim-timan?? lo kata,bubur TIM! iye,satu tim satu desa. satu desa 30 orang anak undip dari berbagai disiplin ilmu.

“wah,kerjaan lo nyangkul,bajak sawah,memberi pestisida hah ahahaha. back to nature,kawan!!! sip! sip!” *mungkin,coz belom di buat juga programnya.

“berapa ari?” *35 hari.

“kampus gw kagak ada kkn,kawan” *ha haha…

“kok ketawa lo?” *mboh. nanti,kawan. sabar. lo tunggu aja cerita2 gw. sekarang gw cabut dulu,kelamaan kalo ceritai kkn via YM. binggung gw mulai dari mana dan kelar dari mana hah hahaha! cabut,sek. udah membengkak billing warnet gw.

“okeh. semoga ada kembang desa dan kembang kol yang matang2″

*bedjo

*bedjo=untung

untung? untung itu apa?

untung secara sederhana adalah sebuah rasa syukur seorang hamba terhadap apa yang di berikan Tuhan terhadap apa yang di butuhkan umantNya bukan apa yang di inginkan umatNya.

contoh kasus :

untung gak ketabrak bajaj” padalah abis jatoh dari motor dan abang bajaj di belakangnya bisa ngeles zigzag menghindar.

untung gak jatoh” padahal dia abis aja nabrak pembatas jembatan,mobil bemper depan dan body mobil rusak parah.

orang2 yang bersyukur.

melihat gelas yang terisi setengah,bukan kosong setengah.

trus???

kenapah?

emboh,pengen menulis aja.

seperti gw pengen ajah memberikan ilmu yang gw dapet walo sedikit,dan sedikit gambus. alih-alih gw bisa melaksanakannya.

itu! sebuah cocot dengan harapan yang besar untuk perubahan

ha haha!

salam gambus!!

me- bunuh waktu

membunuh waktu.

adalah salah satu yang di yakini dan harus di lakukan ketika kita akan masuk GOA (CAVE).

jangan membunuh apapun kecuali waktu.

ilmu itu sudah gw dapat beberapa tahun lalu. kadang,kalo di telaah memang benar bahwa kita tidak boleh membunuh apapun itu di dalam gw karena akan merusak ekosistem stabil yang ada didalamnya. CAVER/penelusur GOA hanyaLah orang asing (alien bagi penghuni GOA) yang sedang menikmati perut bumi, sopan-santunnya adalah menghormati mereka -penghuni perut bumi tersebut. enyahKan semua Antrophocentris.

yang kadang,masih menjadi binggung bagi pribadi adalah kenapa ‘tumbal’ itu adalah WAKTU? karena,memang waktu tidak bakal bisa di bunuhKah? sebuah HIL yang MUSTAHAL membunuh waktu sehingga menjadi sebuah perumpamaan.

yang igin gw lakukan adalah membunuh waktu walau itu bukan di dalam GOA. tapi,disini. membunuh WAKTU agar terhenti menahan semburat jingga senja di pantai agar kekal menjinggakan semesta.!

ketika guling sudah tidak lagi…

Ia gw lahir,ketika itu umur gw lebih dari 2 tahun.

bandel bet! itu cerita history gw ketika bertemu para paman dan tante ketika membicarakan gw kecil. imut dan lucu sih.. hah haha!

tapi,bandel bet-nya itu gak ketulungan. menjadi sebuah cerita yang lucu karena anak para paman dan tente gw itu ternyata gak jauh-jauh tingkahnya sama gw waktu gw kecil dulu ha hahahah…

***

hal yang gak pernah lepas dari gw adalah guling.

dulu,kamu itu susah tidur kalo gada guling” ibu bicara lembut kepada gw ketika gw masih kelas 3 SD.
tau kenapa?

karena,anak sepantaran gw ketika itu udah pada punya adek.

maklum gw tinggal di sebuah lingkungan baru. jadi,sebuah komunitas keluarga baru rata-rata mempunyai anak 2 yang masih kecil-kecil pula.

mungkin,biar gw tidak merengek-rengek meminta adek terus tiap malam. ibu selalu memberi guling kecil.

***

sekarang ‘guling kecil’ yang selalu gw idamkan,sudah besar. seperti juga gw yang sudah tidak ’sakaw’ tidur tanpa guling (masak munggah gunung kudu bawa guling heh heheh…)

saat ini. hari ini adalah momet tersebut.. yang bisa gw lakukan adalah sekedar mengirimkan doa.

semoga ia, gw dan dia tetap besar dan menjadi ‘BESAR’

PS: kalo 10% itu tembus sebuah GPS untuk lo. amin.

doain gw juga y!

Dari WS RENDRA

Salam,

Potongan tulisan ini gw dapet dan ingin memperlihatkan juga menyebarluaskan umumnya untuk kawan-kawan dimanapun berada khusunya untuk kawan yang mengambil disiplin ilmu perikanan dan ilmu kelauatan untuk sebuah renungan.

Semoga ada manfaatnya!

Dari WS RENDRA

Renungan Seorang Penyair Dalam Menanggapi Kalabendu

Tulisan ini dipinjam dari kuliah umum yang disampaikan WS Rendra saat dianugerahi Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada, hari Selasa 4 Maret 2008. Foto Arbain Rambey, ketika Rendra Pidato Kebudayaan yang disampaikan pada Konfrensi Internasional ” Jaringan Ekonomi : Menuju Demokratisasi Ekonomi di Indonesia” di jakarta 6/12/1999

****

HUKUM, perundang-undangan dan ketatanegaraan yang menghargai daulat manusia, daulat rakyat, daulat akal sehat, dan daulat etika akan menjadi “Mesin Budaya” yang mampu merangsang dan mengakomodasi daya cipta dan daya hidup bangsa, sehingga daya tahan dan daya juang bangsa menjadi tinggi. Jadi sangat penting segera para ahli hukum membahas dan meninjau kembali mutu kegunaan tata hukum dan tata negara Republik Indonesia dalam menyejahterakan kehidupan berbangsa.

Bahkan menurut DR. Sutanto Supiadi ahli tata negara dari Surabaya berpendapat, bahwa redesigning konstitusi sangat diperlukan. Kenyataan memang menunjukkan bahwa setiap ada amandemen untuk membatasi kekuasaan presiden, tidak menghasilkan daulat rakyat yang lebih nyata, melainkan hanya menghasilkan daulat partai-partai yang lebih kuat. Bahkan, dalam proklamasi kemerdekaan dan UUD’45 yang asli, wilayah Republik Indonesia itu jelas ditunjukkan. Lalu pada amandemen ke empat, disebutkan munculnya pasal 25a, yang berbunyi: “Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang” .

Tidak ada perkataan maritim di dalam rumusan itu. Nama negara pun hanya disebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal 60% dari negara kita terdiri dari lautan. Jadi lebih tepat kalau nama negara kita adalah Negara Kesatuan Maritim Republik Indonesia.

Negara kita adalah negara satu-satunya di dunia yang memiliki laut. Negara-negara lain hanya mempunyai pantai. Tetapi negara kita mempunyai Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Sulawesi, Laut Flores, Laut Banda, Laut Aru, Laut Arafuru, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Halmahera, Laut Timor dan Laut Sawu. Namun toh ketatanegaraan kita tetap saja ketatanegaraan negara daratan. Inikah mental petani?

Sampai saat ini kita belum membentuk “Sea and Coast Guard”, padahal ini persyaratan Internasional, agar bisa diakui bahwa kita bisa mengamankan kita, maka kita harus mempunyai “Sea and Coast Guard”. Dunia International tidak mengakui Polisi Laut dan Angkatan Laut sebagai pengamanan laut di saat damai. Angkatan Laut, Polisi Laut itu dianggap alat perang. Jadi apa sulitnya membentuk “Sea and Coast Guard” yang berguna bagi negara dan bangsa? Apakah ini menyinggung kepentingan rejeki satu golongan? Tetapi kalau memang ada jiwa patriotik yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, bukankah tak akan kurang akal untuk mencari “win-win solution”.

DALAM soal perbatasan kita telah melengahkan pemetaan, pendirian beberapa mercu suar lagi, dan mengumumkan claim yang jelas dan rational mengenai batas-batas wilayah negara kita, terutama yang menyangkut wilayah di laut. Sudah saatnya pula lembaga inteligent kita mempunyai direktorat maritim.

Sudah saatnya wawasan ketatanegaraan kita, disegenap bidang, mencakup pengertian “Tanah Air”, dan tidak sekedar “Tanah” saja.


Pelabuhan-pelabuhan pun harus segera ditata sebagai “Negara Pelabuhan” yang dipimpin oleh “Syahbandar” yang berijasah international. Kemudian segera pula dicatatkan di PBB. Tanpa semua itu, maka negara kita tidak diakui punya pelabuhan, melainkan hanya diakui punya terminal-terminal belaka!

Perlu dicatat bahwa pembentukan Negara Nusantara untuk pertama kalinya diproklamasikan oleh Baron Van Der Capellen pada tahun 1821 dengan nama Nederlans Indie, dan sifat kedaulatannya negara maritim dengan batas-batas dan mercusuar-mercusuar yang jelas petanya.

Jadi Van Der Capllen tidak sekedar mengandalkan kekuatan angkatan laut untuk merpersatukan Nusantara, melainkan, alat politik untuk meyatukan Nusantara adalah tata hukum dan ketatanegaraan maritim.

Kita sebagai bangsa harus bersyukur kepada Perdana Menteri Juanda dan menteri luar negari Mochtar Kusumaatmaja, yang dengan gigih telah memperjuangkan kedaulatan maritim kita di dunia Internasional, sehingga diakui oleh Unclos dan PBB. Tetapi kita harus tanpa lengah meneruskan perjuangan itu sehingga kita mampu mengimplementasikan semua peraturan kelautan internasional yang telah kita ratifikasi.

Perlu disayangkan bahwa usaha untuk mendirikan Universitas Maritim yang bisa memberikan ijasah internasional untuk syahbandar dan nahkoda, belum juga mendapatkan ijin dari Departement Pendidikan Nasional. Saya menganggap sikap pemerintah seperti itu tidak patriotic dan tidak peka pada urgensi untuk menegakkan kedaulatan bangsa dan negara di lautan.

Tata hukum, tata kenegaraan dan tata pembangunan yang sableng seperti tersebut di atas itulah yang mendorong lahirnya “Kalatida” dan “Kalabendu” di negara kita.

Menurut penyair Ranggawarsita kita harus bersikap waspada, tidak mengkompromikan akal sehal. Dan juga harus sabar tawakal. Adapun “Kalasuba” pasti datang bersama dengan ratu adil.

Dalam hal ini saya agak berbeda sikap dalam mengantisipasi datangnya “Kalasuba”. Pertama, “Kalasuba” pasti akan tiba karena dalam setiap chaos secara “build-in” ada potensi untuk kestabilan dan keteraturan. Tetapi kestabilan itu belum tentu baik untuk kelangsungan kedaulatan rakyat dan kedaulatan manusia yang sangat penting untuk emansipasi kehidupan manusia secara jasmani, sosial, rohani, intelektual dan budaya. Dalam sejarah kita mengenal kenyataan, bahwa setelah chaos Revolusi Perancis, lahirlah kestabilan pemerintahan Napoleon yang bersifat diktator. Tentu masih banyak lagi contoh semacam itu di tempat lain dan di saat lain.

Kedua, harus ada usaha kita yang lain, tidak sekedar sabar dan tawakal. Tetapi toh kita tidak menghendaki “Kalasuba” yang dikuasai oleh diktator. Tidak pula yang dikuasai oleh kekuasaan asing seperti di Timor Leste. Oleh karena itu kita harus aktif memperkembangkan usaha untuk mendesak perubahan tata pembangunan, tata hukum dan tata kenegaraan sehingga menjadi lebih baik untuk daya hidup dan daya cipta bangsa.

Ketiga, situasi semacam itu tidak tergantung pada hadirnya Ratu Adil, tetapi tergantung pada Hukum yang Adil, Mandiri, dan Terkawal.

Wassalam,

RENDRA
Cipayung Jaya, Depok
Hotel Quality, Jogya

jenuh

JENUH kata keparat yang sangat sya binggung untuk mengartikannya baik secara harfiah ataupun secara etimologi.

akan kah,manusia itu jenuh selamanya?

berkepanjangan?

akankah kerena jenuh manusia itu menolak keberadaanNya?

marah tak berkesudahan.

memang kata yang sangat keparat JENUH itu. baik katanya maupun apa yang di akibatkan pada JENUH tersebut.

apakan saya jenuh berkepanjaan. berdansa dalam keterpurukan dan senyum yang ambigu dan manupulatif?

neng JENUH,kanapa kamu tidak juga menjauh,sayang…

sudah cukup kita bercinta. berakhir disini saja.

PENJAGA

apa arti penjaga bagi kalian?

apakah kita bisa menjadi penjaga yang baik?

kapan kita bisa menjaga?

bagaimana kita menjaga?

dimana kita bisa memulai menjaga?

lingkungan dan alam ini milik siapa dan siapa yang bertanggungjawab?

dalam sebuah keyakinan

salam sebuah keyakinan akan banyak sekali berbenturan dengan keyakinan sesama manusia yang bahkan sudah lama berkenalan dan saling bersahabat.

manusia memang punya kepentingan hidupnya masing-masing.

ketika,sudah berbenturan keyakinan dan kepentingan yang akan di bingungkan kan adalah perasaan. mempertahankan keyakinan adalah berani untuk membunuh perasaan.

ketika percobaan pembunuhan terhadap perasaan itu sedang di rencanakan saja akan benyak pengorbanan-pengorbanannya.

manusia tebentuk oleh ketakutan yang tidak di pelajari dan ketakutan yang di pelajari.

ketakutan yang tidak di pelajari seperti; phobia air,phobia tinggi dan bla..bla..

ketakutan yang dipelajari adalah seperti cara guru SD memberitahu kalo kita salah : di JITAK PAKE CINCIN GATEL SEGEDE BATU KALI,,akhirnya kita takut kalo salah. mau gak mau cara paling mulianya adalah berbohong.

bisa juga,pola pendidikian keluarga atau masa lalu ketika bersosialisasi dengan kerumunan ketika kecil di desa dulu. LINGKUNGAN yang memberi pelajaran kepada kita untuk takut atau berani.

dan,pola budaya itu semua akan berbeda satu sama lainnya.

banyak hal yang bisa kita perdebatan.

bahwa,si goblok itu sebenernya gak goblok tetapi tenyata iya sangat mencintai mu sehingga dia berpura-pura untuk goblok.

siapa yang tahu bahwa si pintar itu adalah berpu-pura pintar agar mereka semua percaya dan memberi penghargaan kepada dirinya adar dia punya status sosial yang mapan di lingkungan.

siapa bilang yang pendiam itu adalah pemerkosa?

pendiam itu adalah pembunuh?

tidak.

bisa jadi,diam kerena memang malas dengan  rutinitas yang maha bahlul ini karena meraka punya pola-pola tyang tepola dengan sangat resisten dan sanga kebal sekali untuk di berikan imun agar kepekaanya kembali normal.

sekarang! apa standarisasi NORMAL?

RELATIF.

garin bilang,ini abad ketidakterdugaan.

menari-nari,malaikat juga tahu

ketika semua orang menari-nari dengan kebanggaannya. gw merenung di dalam sebuah gubuk kecil di punggung gunung entah berantah. dengan sebatang kayu kecil,mencoret-moretkan epidermis tanah lembab yang sangat subur.

mengambarkan sebuah lingkaran tidak sempurna dengan sayap burung merpati di kedua sisi-kanan dan kiri.

ketika itu pula,kawan-kawan sedang memasak mie,bubur setan (setan dalam arti sesungguhnya,kawan. mengeyangkan tapi,tidak pecah di lidah) juga coklat hangat.

ketika itu,kabut putih turun pelan-pelan. sangat pelan.

suhu sekitar perlahan pun ikut turun.

jika lo adalah lelaki pemelihara bulu-bulu halus di wajah atau lo adalah wanita dengan kelebihan sedikit bulu halus di atas bibir,lo akan merasakan embun-embun menempel di bulu tersebut.

sebatang rokok kretek pun tek terasa.

gw bukan perokok. tapi ketika itu tergoda membuka bungkus rokok putih yang di berikan seorang gadis.

“jangan banyak ngerokoknya ya?” katanya sebelum menyerahkan bungkus tersebut

“janji” jawab gw.

ya. ketika itu. beberapa pendaki menari-nari di antara perapian ketika hari dudah mulai gelap. semakin menggigit saja suhu sekitar. jaket tebal berbahan bulu angsa no wahid sudah ku pakai. tak lupa syal melingkar di leher gw.

gw cukup menikmati kopi yang sudah menjadi dingin di tangan kanan dan sebatang rokok putih di tangan kiri.

tarian semakin laurut semakin riang-gembira. namun,gw sudah terlelap di dalam tenda..

sayup-sayup masih sadar,terdengar lagu dewi lestari dari MP3,,

… Meski seringkali kau malah asyik sendiri/Karena kau tak lihat terkadang malaikat/Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan/Namun kasih ini silakan kau adu/Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya …

Next Page »