tikus dan hujan

hujan.

saat ini permukaan bumi basah oleh titik air hujan dari langit. titik air menyatu dan mngalir menuju sungai. arus sungai terbuang ke samudera namun sebelumnyaterkumpul di sebuah muara.

aku seekor pengerat. hidup di bawah permukaan dengan gigi dan pendengaran saja yang dapat ku banggakan,sisanya hanya sekedar cemooh para manusia diatas permukaan sana.

hah!

ketika hujan seperti iniyang kadang kunantikan. dunia atas permukaan menjadi sepi lapang. manusia-manusia itu malas keluar gedung,manusia-manusia itu berlindung dingin dalam selimut.

kalaupun ada yag diluar gedung,mereka hanya orang-orang sibuk yang menganggap dunia dapat dikendalikan oleh perintahnya suatu saat!

hmm.. tau,mungkin tunawisma yang mau kemana berlindung dari hujan?!

ah… hujan. aku bebas membebaskan basah tubuh tanpamendengarkan jeritan jijik seorang wanita karena melihat tubuh ku ini. bebas melihat langit hitam dengan kelap kelip lampu kota malam.

satu yang ku yakini ketika hujan tiba. aliran hujan yang mengalir menujudaerah rendah dapat membawa tergenang surat-surat ku pada seseorang di samudera sana. yah,mungkin surat tersebut akan disortir dulu oleh kawanan pengerat wilayah kerja muara sebelum akhirnyaditeruskan ke samudera. hm.. ya,aku percaya itu.

hujan saat ini di penghujungmalam. aku benci fajar! aku benci hari berganti pagi! aku benci malam yang habis!

aku tidak pernahtau apa itu pagi, karena ketika pagi manusia berbondong keluar dan menendang aku tanpa perdulirasa sakit yang aku alami. sial!

sebelum pagi datang,kuhirup dalam-0dalam udaramalam hujan saat ini. seperti biasa,titik hujan masuk bersama udara yang ku hirup melalui rongga hidung sehingga mereka terdampar di paru-paruku. sudah tidak sakit,sudah biasa karena kulatih.

baik,waktunya kembali ke bawah permukaan. aku harus menulis surat sebelum hujan reda,sebelum fajar tiba!

secarik kertas bergambar seekor tikus di sisi muka,pulpen biru dan beberapa kudapan sisa makanan cepat saji diatas meja kerja dan lampu meja yang sudah butut juga remang.

“….mungkin sudah puluhan kalimuara banjirdan membau oleh kotoran yang terbawa aliran hujan karena sudah puluhan kalihujan dalam sehari ini…”


“…mungkin sudah ribuan kali kau menerima secarik kertas dengan tulisan pena biru…”


“….pertempuran hati. itu yang terjadi bahwa senja ternyata kalah indah dengan fajar. bahwa kuning kejinggaan fajar lebih indah di banding jingga kekuningan senja…”


“…ketika senyum itu hilang dari wajah mu adalah agar semua harap ku tidak berlebihan,bahwakita adalah kawan. dan ’separuh’ itu bukan lagi milik mu…”


“…adalah saat ini aku murtad. melencengkan keimananku bahwa aku salah. aku taubatatas apa yang sudah mengalir dalam telinga ini. fajar sama indahnya dengan senja,Kawan!”

setelah menulis surat,tanpa mengalirkan melalui sungai yang menyatu dahulu di muara lantas masuk kedalam samudera. aku membawanya entah kemana,mungkin ke surga karena sekelilingku terang benderng dan aku membawasurat tanpa membawa bayangan tubuh. melayang. aku melayang! tanpa beban. melayang tanpa beban.

dalam perjalanan melayang itu aku melihat sebuah bilaho besar. tidak jelas bilaho apa itu. ia masih jauh diatas sana sedang aku sedang melayang menuju ke atas sana.

perlahan bilaho besar tampak tepat didepan muka ku..

aku melayang perlahan saja. sangat perlahan.


GARING




MATI



MANGAN



BAR


BAT TIKUS

aku tertegun. secarik kertas surat semalam masih ditangan,ku baca apa yang kulitis disana. dengan seksama. kulihat apa yang kutulis. kahatam kubaca,carik kertas kubalik.

logo tikus sangat mirip dengan logo besar di bilaho itu.

ah..

sial!

jantung ku berhenti mendadak.

sayap-sayap di bahu ku helai demi helai meranggas seperti adaptasi pohon jati ketika bulan kemarau tiba.

suplay darah ku tidak berjalan baik ke seluruh tubuh.

fungsi hati tidak bekerja dengan baik.

aku mati untuk kedua kali!!!

setahun yang lalu…

setahun yang lalu…
ketika kepompong itu memberontak dan memaksa diri untuk keluar dari serabut2..
hanya untuk sebuah sebuah kondisi yang baik. sebuah perubahan.

ketika itu,setahun yang lalu..
melihat gelapnya malam semarang.
karena sebuah rasa penasaran.
ingin tau,apa itu!

ketika,sebuah tasbih,tahmid dan takbir berkumandang di hari kedua (ya.. seperti malam ini)
ketika,semua muslim dan muslimah berduyun-duyun menuju RumahNya untuk melaksanakan apa yang pernah dilaksanakan Baginda Muhammad di Zamannya..
ketika,surau masih ramai.
ketika,bakahueni masih agak sepi
ketika,st. pasar senen belom bergejolak
ya,ketika seperti malam ini…

menunggang kuda besi.
berlari menantang angin malam.
menahan grogi dengan sebatang rokok,
melihat si MAS membagikan pengaman.
melihat si MAS memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi.
melihat si MAS bersendagurau dengan mbak-mbak jalanan.

ya,si MAS sangat senang aku menemani beliau. menemani beliau bekerja untuk sebuah aktifitas sosial. entah,senang karena apa. entah,karena senang menemani beliau yang tidak taraweh jamaah di masjid. entah,karena senang menemani beliau bekerja. atau,senang karena beliau dapat mengajarkan sebuah kuliah di kampus kehidupan yang tidak pernah aku dapat ketika pantat ku menduduki kursi kampus perguruan tinggi negeri itu.

sebuah roman fiksi yang menceritakan bahwa,mereka adalah bunga-bunga malam yang berkeliaran di samping jalan kota semarang. menjajakan diri dengan sebatang lipstik,sebotol minyak wangi dan tas kecil untuk membersihkan diri (mungkin tidak sempat dipakai,karena persaingan di jalanan sangan tinggi). menjajakan diri dengan sebatang harap bahwa pelanggan mau memakai pengaman. bermain bersih. tidak kasar dan bayar sesuai dengan kesepakatan.

jalanan seperti jalanan-jalanan di jalan-jalan kota. bersaing. motor saling bersaing untuk tidak terkena panas lebih lama,karena panas bisa membuat emosi menari-nari. mobil,dengan luas yang lebih lebar tidak rela disalip oleh sebuah mesin ber-CC hanya 110 sedang dia ber-CC 1800.

begitu juga jalanan ketika malam. pelanggan adalah raja! tidak mau menurut kemauan pelanggan,mending cari yang lain. masih banyak bunga-bunga malam di jalanan ini,begitu kira2 dalam otak kumbang malam jalanan.

bahwa,selera makan yang dijajakan dijalan ketika sore di dimpang lima selalu beragam. soto,sate,sup,tongseng,sego kucing dan tahu gimbal.

begitu juga,bahwa kurus,gendut,tua,muda,bisi,tuli adalah selera orang.
pantat kempes,dada besar,gigi gingsul adalah selera orang.
sebuah teori relatifitas yang berkuasa disini. tidak ada yang mutlak.

bukan kali pertama. tapi,itu kali pertama aku didalam suasana seperti itu di bulan yang istimewa.

yaya…
setelah itu,pada hari itu. kami makan. si MAS yang sangat suka bercerita. aku yang tertarik dengan cerita si MAS menjadi terpanjing untuk bertanya.
sudah 3 gelas es kopi dan 1/2 bungkus rokok menemami malam itu bercerita tetang tadi yang ku alami.

sebuah,tugas besar ya MAS?

aku tidak begitu paham. mungkin hanya berdoa.
sudah tidak ada jijik atau pandangan buruk. kita harus berbuat,bukan sekedar berwacana.

setahun yang lalu,itu yang ku ingat….